Artikel Penerapan Budaya Positif di Kelas Biologi SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan

PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI KELAS BIOLOGI 
SMA UNGGULAN BPPT AL FATTAH LAMONGAN


Mawaddatur Rohmah
SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan/Siman-Lamongan/mawaddaturrohmah29@guru.sma.belajar.id/CGP A-7


Abstrak

Disiplin adalah rasa taat dan patuh terhadap nilai yang dipercaya dan menjadi tanggung jawabnya. Tujuan penulisan penerapan budaya positif di kelas ini adalah untuk mengetahui apakah disiplin positif dapat digunakan sebagai sarana pembinaan karakter siswa kelas Biologi kelas XII di SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan. Metode yang digunakan adalah pendekatan persuasif dengan menyusun langkah detail dalam penerapan budaya positif ini. Penerapan disiplin positif di kelas meskipun baru berlangsung sebulan, sudah memberikan hasil yang baik yang terlihat dari menurunnya perilaku-perilaku negatif siswa di kelas.


Kata Kunci: disiplin positif, siswa SMA

PENDAHULUAN

Hukuman serta penghargaan yang selama ini kita berikan kepada murid dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi mereka dalam belajar sebenarnya adalah upaya kita untuk mengendalikan murid, dan bukannya menuntun mereka. Tugas guru adalah menuntun muridnya sesuai dengan kodrat yang sudah melekat pada diri murid. Kodrat tersebut meliputi kodrat alam dan kodrat zaman. Oleh karenanya, guru dan sekolah harus mampu menyusun lingkungan yang sepenuhnya bertujuan untuk mengakomodasi segala kebutuhan anak didik dalam belajar, tumbuh, dan berkembang dalam rangka menebalkan kodrat mereka. Dalam pembelajaran sehari-hari baik di lingkup kelas maupun sekolah sudah menjadi hal yang bisa kita temui di nyaris semua sekolah, bahwa kedisiplinan merupakan konsep yang menjadi peperangan antara guru/sekolah dengan siswa. 

Hal tersebut dikarenakan kedisplinan ditempuh oleh guru dan sekolah dengan cara membuat rentetan peraturan yang harus dilaksanakan oleh murid. Ketika mereka melanggar, maka lantas diberikan hukuman, dan ketika menjalankan peraturan akan diberikan pujian/penghargaan. Sebagian dari murid akan menjalankan peraturan karena takut dikukum atau menginginkan pujian, namun sebagian juga akan tetap melanggar. Hanya sebagian kecil yang memilih menjalankan peraturan karena kesadaran diri. Hukuman dan pujian hasil dari kedua hal tersebut adalah masuk dalam motivasi ekstrinsik, murid melakukan bukan atas keinginan dirinya sendiri, padahal motivasi paling utama dalam segala hal adalah motivasi intrinsik. 

Oleh karena itu, tidak heran jika kita masih menemukan banyak sekali kegagalan dalam penerapan kedisplinan di sekolah. Hal ini membutuhkan pemikiran mendalam dari kita semua sebagai pendidik. Jika motivasi ekstrinsik yang dominan, maka kedisiplinan dalam dunia pendidikan akan sulit tercapai secara maksimal. Kita harus bersama-sama saling berkolaborasi antar guru mata pelajaran untuk menumbuhkan motivasi intrinsik dalam berdisiplin. 

Berbagai permasalahan terkait disipin di kelas/atau sekolah harus kita cari solusinya. Karena kedisiplinan yang baik akan menghasilkan pendidikan yang baik pula. Adapun tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui penyebab masih banyaknya siswa yang melanggar peraturan di kelas/sekolah, selanjutnya untuk mencari cara agar siswa memiliki disiplin positif, dan untuk mengetahui pengaruh antara kedisiplinan yang baik dengan budaya positif di kelas/sekolah.

Hal tersebut dikarenakan dengan tumbuhnya disiplin positif, maka perilaku siswa akan menjadi lebih baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Nur H., dkk., (2016) yang mengatakan bahwa disiplin positif merupakan teknik yang bisa digunakan untuk mengajarkan anak menjadi bertanggung jawab serta hormat pada anggota dari komunitas mereka sebagai bentuk disiplin, tanpa memberikan hukuman. Senada dengan itu, Efi, I.B., (2017), yang mengatakan bahwa disiplin positif dapat menjadi alternatif serta strategi yang dapat dipertimbangkan oleh guru dalam melakukan tugas sehari-hari bersama anak didik. Syahroni (2021) menambah bahwa disiplin positif yang diterapkan di SMA Negeri 5 Bengkulu Tengah di tahun pelajaran 2019 mampu menurunkan jumlah aduan konflik internal yang mengindikasikan adanya peningkatan karakter pada guru, siswa, tenaga TU sehingga semua warga sekolah merasa nyaman berada di sekolah dan hal tersebut juga meningkatkan prestasi akademik siswa. 

Permasalahan banyaknya murid yang tidak disiplin di dalam kelas biologi dan di sekolah secara umum ditunjukkan dengan masih adanya beberapa siswa yang tidak mengerjakan tugas biologi ataupun mengerjakan namun tidak mengumpulkannya. Sebagai guru biologi saya selalu mengingatkan baik selama proses pengerjaan tugas, maupun setiap pertemuan di kelas, akan tetapi masih saja ada beberapa anak yang tidak mengerjakan dan/atau mengumpulkan tugas. Padahal tugas dalam pelajaran biologi memiliki peran yang sangat penting dikarenakan sifat mata pelajaran yang membutuhkan kemampuan literasi dan detail yang tinggi. Hal ini menyebabkan anak-anak yang bersangkutan memiliki hasil pembelajaran yang relatif rendah. Rendahnya hasil belajar ini jika dibiarkan maka akan berdampak pada proses pendidikan ke jenjang selanjutnya. Selain itu, juga masih adanya murid yang melanggar tata aturan seragam juga jam masuk dan pulang sekolah. Ketidakdisiplan tersebut jika berlarut-larut, maka akan menjadikan perilaku siswa menjadi kian tidak baik. 


METODE DAN PROSES PENYELESAIAN MASALAH

Permasalahan-permasalahan seperti yang telah dijelaskan di atas memerlukan solusi. Oleh karena itu, salah satu alternatif metode penanganan yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan disiplin positif agar pada akhirnya tercipta budaya positif di kelas biologi dan di sekolah secara umum. Metode pendekatan persuasif digunakan dalam penerapan budaya positif ini karena memang untuk menghasilkan budaya positif memerlukan kolaborasi dari guru, siswa, dan semua elemen sekolah.

Langkah langkah Spesifik Dalam Menyelesaikan Masalah

Langkah operasional yang sudah dilaksanakan dalam menyelesaikan masalah di atas antara lain sebagaimana di bawah ini:

  1. Guru menjelaskan pokok-pokok pemikiran dalam budaya positif kepada siswa di kelas. 
  2. Guru bersama-sama dengan siswa mengidentifikasi kebutuhan dasar manusia yang bagi mereka belum bisa dipenuhi oleh guru dan sekolah. 
  3. Guru bersama-sama dengan siswa menyusun Keyakinan Kelas dalam bentuk tabel T. 
  4. Melakukan prosedur Segitiga Restitusi jika masih menemukan pelanggaran.
  5. Pendampingan dan melakukan evaluasi pelaksanaan rencana restitusi yang sudah disusun oleh siswa yang diajak melaksanakan Segitiga Restitusi.
  6. Evaluasi bersama dalam kelas tentang Keyakinan Kelas setelah sebulan berjalan.
  7. Deseminasi/pengimbasan pemahaman dan penerapan budaya positif di kelas biologi kepada rekan guru yang lain.


PEMBAHASAN

Disiplin positif yang telah diterapkan di kelas biologi di kelas XII SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan selama sebulan menunjukkan tren perilaku negatif murid kian menurun, dengan kata lain perilaku dan kedisiplinan siswa menjadi kian membaik. Hal ini dibuktikan dengan semakin menurunnya jumlah siswa yang tidak mengerjakan tugas atu tidak mengumpulkan tugas, menurunnya jumlah siswa yang terlambat hadir di jam biologi, dan jumlah siswa yang membolos di jam biologi, kerapian dan kelengkapan baju seragam juga semakin membaik. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini:

Gambar 1. Tren Menurunnya Perilaku Tidak Disiplin pada Siswa Kelas XII di Kelas Biologi 
SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan Selama Bulan Januari.


Di bawah ini akan penulis dipaparkan detail langkah yang sudah dilaksanakan sehingga diperoleh hasil seperti tertera pada gambar 1 di atas.

1. Guru menjelaskan pokok-pokok pemikiran dalam budaya positif kepada siswa di kelas. 

Hal ini dilakukan agar siswa memahami secara benar tentang prinsip-prinsip penting dalam budaya positif yang ingin dicapai oleh guru mata pelajaran dan sekolah. Prinsip-prinsip penting tersebut meliputi: 1) disiplin positif dan nilai kebajikan universal, 2) Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, 3) Restitusi, Keyakinan Kelas, 4) Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, 5) Restitusi: Lima Posisi Kontrol, dan 6) Restitusi: Segitiga Restitusi. 

Kegiatan ini dilaksanakan idealnya di awal tahun pelajaran. Akan tetapi di awal semester juga bisa menjadi alternatif waktu. Pelaksanaan langkah pertama ini seperti terlihat pada Gambar 2 di bawah ini:

Gambar 2. Kegiatan Pemaparan Budaya Positif Kepada Siswa


2. Guru bersama-sama dengan siswa mengidentifikasi kebutuhan dasar manusia yang bagi mereka belum bisa dipenuhi oleh guru dan sekolah. 

Hal ini harus dilaksanakan oleh guru, karena perilaku manusia selalu didasarkan atas upaya untuk memenuhi lima kebutuhan dasar manusia yang meliputi 1) Kebutuhan Bertahan Hidup, 2) Kebutuhan untuk Diterima, 3) Kebutuhan Pengakuan atas Kemampuan, 4) Kebutuhan Akan Pilihan, dan 5) Kebutuhan Untuk Merasa Senang. Apabila ada perilaku dari siswa yang tidak sesuai dengan seharusnya, berarti ada kebutuhan dasar yang berlum terpenuhi oleh guru ataupun sekolah. Hal ini sesuai dengan pendapat Glasser, W. dalam Kemdikbudristek (2022).

Pelaksanaan langkah kedua ini seperti terlihat pada Gambar 3 di bawah ini:

Gambar 3. Identifikasi Kebutuhan Dasar Masing-Masing Siswa yang Belum Terpenuhi 
oleh Guru Mapel dan Sekolah


Adapun di seluruh kelas yang penulis ampu, terangkum empat kebutuhan dasar manusia dari siswa yang masih belum terpenuhi baik oleh saya sebagai pengampu mapel biologi, ataupun oleh sekolah. Empat kebutuhan dasar tersebut tertera dalam Tabel 1 di bawah ini:

 Tabel 1. Hasil Penelusuran Kebutuhan Dasar Manusia yang Masih Belum Terpenuhi Bagi Siswa di Kelas dan/atau Sekolah


Kebutuhan bertahan hidup tidak menjadi prioritas dikarenakan seluruh siswa di SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan memang bermukim di pondok pesantren yang sudah disediakan oleh sekolah, sehingga nyaris kebutuhan dasar untuk bertahan hidup sudah terpenuhi. 

3. Guru bersama-sama dengan siswa menyusun Keyakinan Kelas dalam bentuk Tabel T

Keyakinan yaitu nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati secara tersirat dan tersurat, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama. Jika kita menekankan pada keyakinan seseorang, maka akan lebih memotivasi seseorang dari dalam (motivasi internal). Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan tertulis tanpa makna (Kemdikbudristek, 2022). 

Keyakinan kelas ini akan menggantikan peraturan, dalam hal ini adalah peraturan dalam pelajaran biologi yang sebelumnya berupa kontrak belajar yang dibuat oleh guru mapel tanpa melibatkan siswa dalam proses penyusunannya. Adapun ciri-ciri keyakinan kelas yakni: bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan yang lebih rinci dan konkrit, Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal, pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif, keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas, keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut, semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat, dan warga kelas bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu (Kemdikbudristek, 2022).

Gambar 4 di bawah ini adalah dokumentasi kegiatan penyusunan Keyakinan Kelas yang selanjutnya dirangkumkan dalam Tabel T Keyakinan Kelas.

  Gambar 4. Penyusunan Keyakinan Kelas Biologi SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan


Adapun tahapan dalam penyusunan Keyakinan Kelas ini antara lain adalah sebagai berikut:

a. Setiap anak menuliskan minimal dua nilai kebajikan yang mereka yakini.

b. Melakukan rekapitulasi seluruh nilai kebajikan yang ditulis.

c. Melakukan voting nilai kebajikan yang akan digunakan di kelas

d. Memilih sejumlah nilai kebajikan dengan hasil suara terbanyak.

Gambar 5. Tahapan a-d dalam Penyusunan Keyakinan Kelas Biologi SMA Unggulan 
BPPT Al Fattah Lamongan


e. Membagi murid menjadi beberapa kelompok sesuai dengan banyaknya nilai kebajikan yang disepakati oleh kelas untuk mendiskusikan keyakinan kelas terkait nilai kebajikan tersebut.

Gambar 6. Tahapan e dalam Penyusunan Keyakinan Kelas Biologi SMA Unggulan 
BPPT Al Fattah Lamongan

 

f. Menempelkan hasil diskusi ke kertas manila dan melakukan dengar pendapat akan hasil diskusi kelompok masing-masing.

Gambar 7. Tahapan f dalam Penyusunan Keyakinan Kelas Biologi SMA Unggulan 
BPPT Al Fattah Lamongan


g. Menuliskan hasil penyusunan keyakinan kelas dengan rapi dan penandatangan keyakinan kelas tersebut oleh seluruh kelas dan juga guru


    Gambar 8. Tahapan g dalam Penyusunan Keyakinan Kelas Biologi SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan


4. Melakukan prosedur Segitiga Restitusi dalam menghadapi murid yang masih melakukan pelanggaran atas keyakinan kelas yang sudah disepakati bersama sebelumnya.

Pelaksanaan Segitiga Restitusi harus berpegang pada prinsip bahwa restitusi itu ajakan untuk menjadi pribadi yang bersedia menjalankan keyakinan kelas yang berisi nilai-nilai universal, dan bukannya paksaan dari guru kepada murid. Langkah perbaikan yang akan dilaksanakan haruslah berasal dari inisiatif siswa dengan bantuan dan bimbingan gurunya. Sehingga dengan siswa yang bermasalah dan mereka merencanakan langkah perbaikannya sendiri, diharapkan secara perlahan motivasi internal akan terbentu untuk berdidiplin positif. Pada akhirnya jika hal tersebut tercapai, maka secara perlahan namun pasti budaya positif akan muncul di kelas dan sekolah.

Proses pelaksanaan segitiga restitusi dapat dilakukan secara lebih informal dikarenakan siswa menjadi lebih rileks sehingga proses segitiga restitusi bisa berjalan dengan lebih baik dan menyenangkan.


Gambar 9. Melakukan Segitiga Restitusi Terhadap Siswa yang Masih Melakukan Pelanggaran akan Keyakinan Kelas

5. Pendampingan dan melakukan evaluasi pelaksanaan rencana restitusi yang sudah disusun oleh siswa yang diajak melaksanakan Segitiga Restitusi.

Pendampingan dan evaluasi pelaksanaan Segitiga Restitusi ini penulis lakukan dengan cara selain selalu mengingatkan secara pribadi kepada murid-murid yang dimaksud untuk melaksanakan rencana restitusi mereka terkait misalkan keyakinan kelas tentang tanggung jawab (secara umum mereka merencanakan untuk akan mengerjakan dan mengumpulkan tugas), juga memantau apakah mereka mengerjakan dan mengumpulkan tugas atau tidak (baik di Google Classrom maupun manual). Jika masih ada yang belum menjalankan rencana restitusinya, maka kembali diajak berdiskusi.

Dalam evaluasi pelaksanaan restitusi ini, siswa saya minta untuk berdialog dengan dirinya terlebih dahulu dalam rangka evaluasi diri akan pelaksanan rencana restitusi yang sudah mereka lakukan.Beberapa siswa masih memiliki kesulitan untuk menerapkan nilai bertanggung jawab utamanya, namun mereka semua tetap memiliki keinginan dan niat untuk berusaha lebih baik lagi.


6. Evaluasi bersama dalam kelas tentang Keyakinan Kelas setelah sebulan berjalan.

Evaluasi bersama dalam kelas dilakukan secara diskusi untuk saling menelaah setelah selama nyaris sebulan menjalankan keyakinan kelas. Hasil diskusi dipresentasikan oleh setiap kelompok. Pada akhir kegiatan bersama dengan penulis, kami membuat kesimpulan tentang hasil evaluasi kami.

Kesimpulannya antara lain: siswa sudah berusaha meskipun ada yang masing kurang maksimal, namun karena keyakinan kelas belum begitu lama dilaksanakan, maka mereka yakin bahwa di akhir semester genap ini mereka akan menjadi pribadi yang kian memiliki disiplin positif.

 


Gambar 10. Evaluasi Bersama di Kelas Akan Pelaksanaan Keyakinan Kelas Selama Sebulan


7. Diseminasi/pengimbasan pemahaman dan penerapan budaya positif di kelas biologi kepada rekan guru yang lain.

Adapun tahapan dalam pelaksanaan pengimbasan akan pemahaman dan penerapan budaya positif di kelas kepada sesama rekan guru yang telah penulis lakukan adalah sebagai berikut:

a. Berkoordinasi dengan pimpinan sekolah. 

Selain kepala sekolah, penulis juga berkoordinasi dengan wakasek kurikulum, wakasek sarpras, dan wakasek humas. Koordinasi ini dilaksanakan untuk mempersiapkan waktu yang tepat agar tidak mengganggu pembelajaran, dan juga agar berjalan dengan lancar dan efektif. Dukungan unsur pimpinan SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan sangat besar kepada penulis selama koordinasi dan pelaksanaan pengimbasan ini.

b. Persiapan pengimbasan.

Mempersiapkan bahan pengimbasan, dokumen-dokumen bukti penerapan aksi nyata budaya positif, juga hal-hal teknis lainnya. Persiapan ini mutlak diperlukan agar kegiatan pengimbasan bisa berjalan dengan optimal untuk memberikan dampak baik yang maksimal.

c. Melaksanakan kegiatan pengimbasan secara tatap muka tentang disiplin positif.

Pengimbasan penulis lakukan setelah melaksanakan budaya positif selama kurang lebih satu bulan di kelas mapel yang penulis ampu. Pelaksanaan pengimbasan dihadiri oleh seluruh guru yang memiliki jam mengajar hari itu yakni lebih dari 10 orang. 

Pengimbasan dilaksanakan di ruang baca tengah perpustakaan sekolah yang memiliki suasana sangat nyaman dan memungkinan kami bisa melaksankan pengimbasan dan diskusi dengan baik. 


Gambar 11. Pengimbasan/diseminasi Akan Pemahan dan Pelaksanaan Disiplin Positif Kepada Rekan Guru dan Tenaga Kependidikan


d. Mendampingi rekan guru yang membutuhkan ketika penerapan disiplin positif.

Setelah pengimbasan dilakukan, penulis berkomitmen untuk membantu rekan guru yang membutuhkan pendampingan seandainya beliau-beliau tergerak untuk mengikuti menerapkan disiplin positif di mapel masing-masing. Hal ini penulis rencanakan karena hakikat dari guru penggerak salah satunya bisa mengajak lingkungannya untuk bergerak ke arah yang lebih baik lagi dalam memberikan tuntunan akan kodrat anak murid kami. 

e. Melakukan evaluasi bersama-sama antara penulis dan rekan-rekan guru setelah melaksanakan disiplin positif selama nyaris satu semester.

Rencana ini bisa terlaksana di akhir semester genap nantinya. Semoga semakin banyak rekan guru yang tergerak untuk memulai menerapkan disiplin positif di kelasnya setelah mendapatkan pengimbasan dari pemahan dan pengalaman penerapan disiplin positif yang dilakukan oleh penulis.


KESIMPULAN

Penerapan dari disiplin positif untuk menghasilkan budaya positif ini dari apa yang telah penulis lakukan bisa menjadi alternatif kita para pendidik untuk mengatasi banyaknya kesulitan dan tantangan kita dalam menjadikan murid kita disiplin. Murid pun merasa sangat bersemangat dan senang karena dilibatkan oleh gurunya dalam menentukan keyakinan kelas yang akan menjadi pemandu mereka dalam berperilaku ke depannya. Selain itu, restitusi memberikan siswa yang bermasalah pemenuhan akan kebutuhan mereka merasa berkuasa dan memiliki pilihan. Hal ini menjadikan mereka merasa bukan lagi sosok yang gagal dan bermasalah. Seiring waktu, penerapan disiplin positif ini menunjukkan hasil yang baik bagi siswa dan guru.


DAFTAR PUSTAKA


Andri Nurcahyani, Diah Samsiati Rajasa, dan Murti Ayu Wijayanti, (2022). Program Pendidikan Guru Penggerak Modul 1.4. Budaya Positif. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Direktorat Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan Tenaga Kependidikan. Jakarta.


Efi Ika Febriandari, (2017). Penerapan Metode Disiplin Positif Sebagai Bentuk Pembinaan Pendidikan Karakter Disiplin Anak SD. 152-169. Seminar Nasional Pendidikandan Pembelajaran 2017 Volume 1 November 2017. Kediri. https://journal.stkippgritrenggalek.ac.id/index.php/kid/article/view/132/82  (diakses pada, 2 Februari 2023; 10.08). 


Nur Hidayat, Danarti, dan Sri Darwati, (2016). Disiplin Positif; Membentuk Karakter Tanpa Hukuman. The Progressive and Fun Education Seminar. 471-477. Solo. https://publikasiilmiah.ums.ac.id/handle/11617/7840 (diakses, 2 Februari 2023; 10.08). 


Sya’roni (2021) Disiplin Positif Sebagai Sarana Pembinaan Karakter Menuju Sekolah Ramah Anak Di Sma Negeri 5 Bengkulu Tengah. Jurnal Aghinya Stiesnu Bengkulu Volume 4 Nomor 1 Januari 2021. Bengkulu.   https://ejournal.stiesnubengkulu.ac.id/index.php/aghniya/article/download/61/58  (diakses pada 2 Februari 2023; 10.10).


Comments

  1. Setuju sekali dengan pendapat dari bapak Nur Kakim, semoga kita mampu berkolaborasi menciptakan budaya positif di sekolah kita, terimakasih responnya pak.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Koneksi Antar Materi Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin