Koneksi Antar Materi Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

 

Mawaddatur Rohmah

SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan
Calon Guru Penggerak Angkatan 7 Lamongan


Tulisan di bawah ini merupakan sintesis saya akan keseluruhan materi yang telah saya dapatkan dan pelajari hingga tulisan ini disusun. Tulisan ini juga merupakan refleksi serta pengambilan makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah saya lalui untuk selanjutnya agar ke depannya saya dapat menggunakan pengetahuan baru saya tersebut untuk memperbaiki proses saya dalam mengambil dan menguji keputusan yang saya ambil. 


Koneksi Antar Materi Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Pendahuluan

Sebagai seorang guru, selama ini saya sangat sering berada dalam keadaan harus mengambil keputusan penting, entah itu terkait dengan murid ataupun dengan rekan kerja. Dalam pengambilan keputusan yang selama ini sudah saya lakukan, saya seringkali mengalami kesulitan karena memang selalu muncul dilema dalam prosesnya. Namun setelah saya mendapatkan pembelajaran dalam Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebijakan Seorang Pemimpin ini, saya akhirnya memiliki pengetahuan untuk menjadi bekal dalam mengambil keputusan.

Keputusan yang diambil secara benar akan sangat penting sebab keputusan seorang guru entah terkait dengan muridnya ataupun dengan rekan kerjanya akan sangat mempengaruhi kualitas pengajaran dan pendidikan di sekolah tersebut. Oleh karenanya pemahaman akan empat paradigma, sembilan langkah, dan tiga prinsip pengambilan keputusan harus kita kuasai dan pahami. Akan tetapi sebelumnya, kita tetap harus mengedepankan tentang pengajaran kita kepada murid, salah satunya tercermin dari kutipan di bawah ini:

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best)

Bob Talbert


Kaitan antara kutipan di atas dengan apa yang saya pelajari saat ini adalah bahwa dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid kita, jangan sampai kita melupakan untuk mengajarkan nilai-nilai kebajikan/nilai-nilai baik yang dapat diambil dengan memaknai materi yang sedang kita ajarkan tersebut, sehingga murid tidak hanya mendapatkan materi pembelajaran, namun juga mendapatkan makna dan memahami akan nilai-nilai kebajikan di dalamnya. Dengan nilai-nilai kebajikan ini, maka murid kita akan menjadikannya sebagai pegangan dalam kehidupan selanjutnya, salah satunya dalam proses pengambilan keputusan yang mereka lakukan dalam hidup mereka. 


Adapun nilai atau prinsip yang kita anut dalam pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita dikarenakan nyaris setiap orang dalam membuat keputusan akan menggunakan nilai atau prinsip yang mereka anut sebagai pijakannya. Oleh karena itu, jika nilai dan prinsip yang kita anut adalah nilai/prinsip kebajikan, maka kemungkinan besar keputusan yang akan diambil akan berdampak baik kepada semua pihak yang terkait dan lingkungan sekitarnya. Demikian sebaliknya, jika nilai/prinsip yang kita anut bukanlah nilai/prinsip kebajikan, maka keputusan yang kita ambil akan berdampak buruk bagi sekitar kita yang ada kaitannya dengan keputusan kita tersebut.

Saya sebagai pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid saya terkait dalam pengambilan keputusan adalah melalui dua cara:

  1. Secara tidak langsung, yakni ketika saya melakukan proses pengambilan keputusan terkait dengan dia. Dalam proses ini saya akan sedikit banyak menyampaikan langkah apa yang sedang saya lakukan dan apa kegunaannya dalam pengambilan keputusan yang akan saya ambil nantinya.
  2. Secara langsung, yakni dengan mengajarkan secara langsung di kelas tentang  sembilan langlah-langkah pengambilan keputusan, empat paradigma, dan 3 prinsip dalam pengambilan keputusan pada saat ada waktu-waktu luang yang tersisa.


Adapun menurut saya, maksud kutipan dari Georg Wilhelm Friedrich Hegel "Education is the art of making man ethical (Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis) adalah bahwa dunia pendidikan dalam hal ini sekolah adalah tempat untuk mengajarkan etika dan bukan hanya ilmu pengetahuan. Etika dapat diajarkan secara implisit maupun eksplisit kepada murid kita, dan pembelajaran tentang etika/nilai-nilai kebajikan ini berada pada garda terdepan pembelajaran. Pembelajaran di kelas dan sekolah harus menanamkan nilai-nilai kebajikan, moral, dan perilaku baik kepada murid sebagai bekal murid kita dalam menjalani kehidupannya baik selama di sekolah, di rumah, lingkungan sekitar, dan masa depannya.


Inti

Di bawah ini adalah koneksi antar materi dari materi awal hingga modul 3.1. ini:


  1. Kaitan antara Filosofi Pratap Triloka Ki Hadjar Dewantara dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin.


Pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) sangatlah banyak menginspirasi dunia pendidikan Indonesia, salah satunya adalah Filosofi Pratap Triloka yang berisikan tiga hal pokok, yakni:

Ing ngarso sung tulodho, yang berarti ketika kita berada di depan (sebagai pemimpin utamanya), maka kita harus menjadi teladan. dalam pengambilan keputusan salah satuya, maka idealnya seorang pemimpin harus mampu memahami empat paradigma pengambilan keputusan, tiga prinsip pengambilan keputusan, dan melaksanakan sembilan langkah pengambilan keputusan sehingga keputusan yang akan dihasilkan akan bertanggung jawab dan sesuai dengan seharusnya. Hal ini akan menjadikan dia sebagai contoh bagi anak buah yang dipimpin bahwa pimpinannya mampu mengambil keputusan dengan baik. Demikian juga ketika kita sebagai guru yang merupakan pemimpin pembelajaran, dengan kita mampu melakukan pengambilan keputusan yang tepat utamanya terkait dengan proses pembelajaran, maka murid dan rekan kerja kita akan menjadikan kita sebagai teladan akan pengambilan keputusan. 

Ing Madyo mangun karso, artinya di tengah membangun motivasi, dorongan, dan dukungan bagi murid atau rekan guru kita. Sehingga potensi murid dan rekan guru dapat digali dengan semaksimal mungkin dan dikembangkan. Kita harus mampu membangun motivasi murid dan rekan guru untuk belajar mengambil keputusan dengan baik dengan menggunakan nilai-nilai kebajikan yang disepakati di kelas maupun sekolah sebagai pegangan, empat paradigma dan 3 prinsip pengambilan keputusan, serta sembilan langkah pengambilan keputusan. 

Tut wuri handayani, kita sebagai pemimpin harus mampu mendorong murid dan rekan guru kita dari belakang. Kita harus menunjukkan bahwa kita memberikan dukungan kepada mereka untuk belajar mengambil keputusan dengan baik.


Berdasarkan hal tersebut di atas, maka sebagai pemimpin maupun sebagai guru (pemimpin pembelajaran), kita harus menerapkan pengambilan keputusan berdasar pada empat paradigma, 3 prinsip, dan sembilan langkah pengambilan keputusan dengan berpegangan juga pada filosofi Paratap Triloka KHD tersebut. Dengan kita sebagai teladan, motivator, dan pemberi dukungan yang sejatinya harus dimiliki oleh seorang pemimpin, maka itu semua akan menghasilkan keputusan yang berpihak pada murid, menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan, dan bertanggung jawab.


  1. Pengaruh nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita terhadap prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan.


Nilai dalam diri kita, prinsip-prinsip kebajikan universal yang kita pegang erat, semua itu akan menentukan cara pandang kita dalam melihat suatu masalah, sehingga akan menentukan juga bagaimana kita mengambil keputusan terkait dalam penyelesaian permasalahan tersebut. 


Selain nilai kebajikan universal, guru juga harus memiliki nilai-nilai positif yakni mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Kesemua nilai tersebut akan membuat guru mampu menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Ketika kita sudah sangat terbiasa menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid, maka sudah barang tentu dalam pengambilan keputusanpun kita akan otomatis berpegang pada keberpihakan kita kepada murid kita.


Nilai-nilai kebajikan universal sebagai manusia, nilai-nilai positif sebagai guru, kesemua itu akan menjadi dasar kita dalam mengambil keputusan kita terkait dengan murid, rekan guru, maupun diri kita sendiri sebagai guru. Keputusan yang tepat, berpihak pada murid, menjunjung nilai-nilai kebajikan, dan tanggung jawab yang kita bersedia emban setelah keputusan kita ambil akan menjadikan kita sebagai sosok guru dan pemimpin yang kompeten dalam mengimplementasikan kompetensi sosial emosional kita yakni kesadarah diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Sehingga keputusan kita akan kita lakukan dengan kesadaran penuh (mindfulness), yang akan meminimalisir kesalahan dalam pengambilan keputusan kita.


  1. Kaitan antara materi pengambilan keputusan dengan kegiatan coaching  yang sudah diberikan oleh pendamping atau fasilitator  dalam pengujian pengambilan keputusan.


Kegiatan coaching yang sudah dibimbingkan oleh pendamping atau fasilitator sangat membentu saya dalam melakukan pengujian pengambilan keputusan. Hal tersebut dikarenakan dengan coaching , maka coach  harus memiliki keterampilan menggali kemampuan coachee untuk memaksimalkan potensinya guna memecahkan masalah yang sedang dia hadapi.  Kompetensi coaching  yang harus dikuasai oleh coach antara lain presence, mendengarkan aktif dengan RASA, dan mengajukan pertanyaan berbobot dengan alur TIRTA Kesemua kompetensi tersebut melatih saya dalam melakukan pengujian pengambilan keputusan dengan sembilan langkah pengambilan keputusan yang saya lakukan. 


Menurut saya pengambilan keputusan yang saya lakukan sudah relatif efektif meskipun membutuhkan lebih banyak latihan secara terus-menerus.  Dengan kegiatan coaching yang diberikan oleh fasilitator membantu saya berlatih untuk mengevaluasi pilihan-pilihan yang saya miliki dan keputusan yang akan saya buat. Apakah pilihan dan keputusan tersebut sudah berpihak pada murid, sudah berlandaskan nilai-nilai kebajikan, dan apakah dapat saya pertanggung jawabkan, kesemuanya itu terlatih dengan coaching. Pemahaman dan hasil berlatih berkomunikasi dengan paradigma coaching  ini membantu saya selaku pemimpin pembelajaran dalam mengajukan banyak pertanyaan berbobot dalam langkah pengambilan keputusan. Teknik coaching ini juga membantu saya untuk mengidentifikasi masalah dan menghasilkan keputusan yang tepat ketika menentukan apakah permasalahan tersebut merupakan dilema etika ataukah bujukan moral.


  1. Kemampuan kita sebagai guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional kita akan mempengaruhi pengambilan keputusan kita khususnya dalam permasalahan berupa dilema etika adalah: 


Kemampuan kita sebagai guru dan pemimpin pembelajaran dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional kita sangat mempengaruhi kita dalam mengambil keputusan, utamanya dalam dilema etika.  Kepekaan sosial emosional kita akan menumbuhkan empati dan simpati kita sehingga dapat menempatkan diri kita di posisi pihak-pihak yang sedang menghadapi permasalahan dilema etika yang akan kita putuskan tersebut. Guru harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial emosionalnya sendiri sebagai pemimpin pembelajaran  dalam mengambil keputusan. Kompetensi sosial emosional berupa kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab akan dibutuhkan untuk dapat mengambil keputusan yang berpihak pada murid, berdasarkan nilai kebajikan, dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, keputusan yang diambil berdasar pada praktik kesadaran penuh (mindfulness) dan siap atas segala konsekuensi yang harus ditanggung setelah keputusan diambil.


  1. Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut


Pengambilan keputusan akan permasalahan dilema etika akan selalu kembali kepada nilai-nilai kebajikan yang dianut oleh pengambil keputusan dikarenakan memang dalam melaksanakan sembilan langkah pengambilan keputusan langkah paling pertama adalah kita harus mengidentifikasi nilai-nilai kebajikan apa yang saling bertentangan. Berdasar nilai kebajikan ini maka kita akan tahu apakah yang sedang kita hadapi itu dilema etika ataukah bujukan moral. Dalam langkah awal namun sangat krusial ini sudah pasti nilai kebajikan yang dianut oleh pengambil keputusan akan sangat berperan. Sebab nilai kebajikan memang menjadi pondasi karakter dan pemikiran seseorang dalam kehidupan sehari-hari. 


Demikian juga ketika kita melakukan langkah pengujian paradigma benar lawan benar juga berdasar pada nilai kebajikan, pun sama halnya dengan pada saat kita melaksanakan tahap prinsip resolusi. Dan pada akhirnya ketika seorang pemimpin harus membuat keputusan, maka nilai kebajikan yang dia anutlah yang akan menjadi pegangannya dalam memutuskan. 


  1. Pengambilan keputusan yang tepat akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman


Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan dengan keputusan yang tepat, maka semua pihak yang mengalami dilema etika saling merasa dihargai oleh pimpinan. Seorang pemimpin yang baik sebelum melakukan pengambilan keputusan harus terlebih dahulu mempertimbangkan dan menerapkan empat paradigma, tiga prinsip dalam pengambilan keputusan selama menjalankan sembilan langkah pengujian pengambilan keputusannya. Oleh karena itu maka keputusan yang diambil pastilah sudah mempertimbangkan berbagai kepentingan bagi ekosistem sekolah. Sehingga meskipun akan selalu terjadi dilema etika atau bahkan bujukan moral, namun jika pemimpin sudah terbukti mampu mengambil keputusan yang tepat, maka secara pasti akan terbentuk lingkungan sekolah yang positif, kondusif, aman, dan nyaman karena pimpinan mampu mengayomi setiap kepentingan dari komunitas sekolahnya.


  1. Tantangan di lingkungan saya untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap dilema etika antara


Tantangan paling utama adalah dari diri saya sendiri, saya kadang masih terbebani dengan rasa tidak enak jika ternyata ada salah satu pihak yang memang salah dan harus menanggung konsekuensi dari keputusan yang saya ambil karena memang yang bersangkutan salah. Namun seiring dengan perubahan paradigma di sekolah saya karena adanya beberapa calon guru penggerak dan guru pendamping praktik membuat rasa tidak nyaman tersebut semakin berkurang sebab ekosistem sekolah secara perlahan memahami bahwa segala keputusan yang akan diambil akan selalu berpihak pada murid dan berlandaskan pada nilai kebajikan.


Adapun kendala selanjutnya adalah pasti akan ada pihak-pihak yang membangun opini yang membela dirinya masing-masing, hal ini kadangkala akan membuat rasa tidak nyaman sebagai pimpinan akan bertambah dan menjadi beban moral dalam pengambilan keputusan, namun apapun itu jika kita tetap berpegang pada kebutuhan muridlah yang utama, berpijak pada nilai-nilai kebajikan yang disepakati oleh sekolah, dan bertanggung jawab atas apapun konsekuensi dari keputusan yang diambil, maka hal tersebut akan tidak ada artinya lagi.


  1. Pengaruh pengambilan keputusan yang bertanggung jawab yang kita ambil dengan pengajaran yang memerdekakan murid kita dan bagaimana cara kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid-murid kita yang berbeda-beda 


Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab yang kita ambil akan berpengaruh pada pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita, hal ini dikarenakan sebelum kita mengambil keputusan, terlebih dahulu kita memberikan kesempatan kepada murid kita untuk menyampaikan keinginannya dalam proses pembelajaran, satu anak tentu berbeda dengan yang yang lainnya. dari situlah selanjutnya kita akan ambil keputusan sesuai dengan yang seharusnya dilakukan oelh pemimpin pembelajaran. Sehingga akan dihasilkan pembelajaran yang menuntun murid sesuai dengan kodrat alam dan zaman mereka, tantangan-tantangan dalam kehidupan keseharian mereka, mengakomodir minat dan bakat mereka, profil belajar mereka, serta berdasar pada kesiapan belajar mereka. Murid bebas berekspresi dengan batasan nilai-nilai kebajikan yang sudah disepakati, juga bebas mengemukakan pendapat dengan baik.


Adapun cara kita sebagai guru pemimpin pembelajaran dalam memutuskan pembelajaran yang tepat untuk murid kita yang potensinya berbeda-beda adalah dengan kita melakukan pembelajaran berdiferesiasi. Diawali dengan kita melakukan analisis diagnostik terlebih dahulu yang dapat kita tempuh dengan berbagai metode. Dari analisis tersebut, kita akan mengetahui kebutuhan belajar murid kita yang meliputi kesiapan belajar, minat murid, dan profil belajar mereka. Dari situlah lantas kita akan memutuskan pembelajaran berdiferensiasi seperti apa yang akan kita lakukan. Differesiasi konten, ataukah diferensiasi proses, dataukah diferensiasi produk, dua di antaranya atau bahkan ketiga-tiganyakah yang akan kita terapkan di kelas kita, semuanya akan kita putuskan berdasar pada keinginan kita untuk memenuhi kebutuhan murid kita. 


  1. Seorang pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusannya akan mempengaruhi kehidupan atau masa depan muridnya


Dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, kita harus mempertimbangankan kebutuhan belajar murid sesuai dengan kodrat dan zamannya. Dengan keputusan yang kita buat sudah berdasar pada kebutuhan belajar mereka tersebut (kesiapan belajar, minat, dan profil belajar), maka potensi setiap murid kita akan termaksimalkan semalam pembelajaran berlangsung. Hal ini akan menjadikan murid kita merasa terwadahi semua kebutuhan dan keinginannya, perasaan merdeka dalam belajar ini akan menghasilkan murid yang nyaman, merasa aman, dan akan terus tertantang selama belajar di sekolah. Akhirnya kesejahteraan dalam belajar, kesejahteraan sosial emosional mereka ini akan menciptakan wellbeing murid dalam bidang akademik dan karakter, yang pada ujungnya akan sangat mempengaruhi masa depan mereka.


  1. Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari pembelajaran modul ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya  


Bahwa pengambilan keputusan kita sebagai pemimpin pembelajaran harus mengedepankan keberpihakan kita kepada murid. Hal ini sesuai dengan filosofi KHD yakni pendidikan bertujuan menuntun segala proses dan kodrat anak untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. 


Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran harus memahami kebutuhan muridnya yang berbeda-beda beserta potensi yang mengiringinya juga yang pasti berbeda-beda. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan kebutuhan mutlak akan kondisi tersebut. Diferensiasi dapat kita lakukan secara menyeluruh baik pada konten, proses, maupun produk atau sebagian saja, kita sesuaikan dengan kondisi murid kita. 


Seorang guru juga harus mampu mengelola kompetensi sosial emosional dirinya sendiri agar dapat memberikan pembelajaran sosial emosional pada murid dengan baik, baik pembelajaran KSE dilakukan secara eksplisit maupun terintegrasi dengan pembelajaran mata pelajaran. 


Untuk mengambil keputusan yang tepat, maka keterampilan coaching akan sangat membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran untuk membuat pertanyaan-pertanyaan selama melaksabakan tahapan pengambilan keputusan, dan juga untuk dapat memperkirakan/memprediksi hasil dari keputusan yang akan kita ambil.


  1. Pemahaman saya tentang konsep-konsep dalam modul ini beserta hal-hal di luar dugaan saya


Saya sudah memahami tentang empat paradigma dalam pengambilan keputusan yakni meliputi: individu vs. kelompok, rasa keadilan vs. rasa kasihan, kebenaran vs. kesetiaan, dan jangka pendek vs. jangka panjang. Selain itu saya juga sudah memahami tentang tiga prinsip dalam pengambilan keputusan yang meliputi: berpikir berbasis akhir, berpikir berbasis peraturan, dan berpikir berbasis rasa peduli. Selain itu, saya juga sudah memahami dan menerapkan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang meliputi: 1) mengenali nilai-nilai yang slaing bertentangan, 2) menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut, 3) mengumpulkan fakta-fakta yang relevan, 4) pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi, dan uji panutan), 5) pengujian paradigma benar lawan benar, 6) melakukan prinsip resolusi, 7) investigasi opsi Trilema, 8) Membuat keputusan, dan 9) melihat lagi keputusan dan merefleksikannya.


Adapun hal-hal di luar dugaan saya adalah: a) jika ternyata uji legal sudah gagal, maka tidak perlu melanjutkan ke langkah selanjutnya dalam langkah pengambilan dan pengujian keputusan, karena permasalahan tersebut sudah benar lawan salah sehingga bukan lagi dilema etika akan tetapi bujukan moral. b) opsi Trilema, selama ini saya belum pernah mendengar istilah Opsi Trilema ini, dan sekarang bisa memahami maksud serta tujuan terdapat langkah Opsi Trilema ini.


  1. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkan saya menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi dilema etika dan bedanya dengan setelah mempelajari modul 3.1.


Iya, saya sudah sering menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi dilema etika. Bedanya dulu dengan sekarang setelah saya mempelajari Modul 3.1. ini adalah: jika dulu saya mengambil keputusan tanpa melalui langkah-langah detail dan tanpa mengetahui istilah-istilah semacam paradigma dan prinsip pengambilan keputusan, sehingga secara garis besar saya hanya melakukan langkah pengumpulan data/informasi dari semua sumber yang terlibat, memikirkan keputusan terbaik apa yang dapat saya berikan, dan selanjutnya memutuskannya. Akibatnya setelahnya saya sering merasa resah dengan keputusan saya karena ada perasaan takut salah dengan keputusan yang saya ambil. 


  1. Dampak bagi saya setelah mempelajari modul 3.1. ini beserta perubahannya dalam saya mengambil keputusan


Dampaknya bagi saya adalah saya sangat merasa terbantu dengan mengetahui dan memahami tentang ilmu pengambilan keputusan yang meliputi pemahaman akan empat paradigma, tiga prinsip, dan sembilan langkah dalam pengambilan keputusan ini. Dengan saya mengetahui persis paradigma dan prinsip serta langkah-langkah apa saja yang dapat saya lakukan secara sistematis, maka sekarang dalam mengambil keputusan saya melakukannya dengan lebih mudah dan lebih ringan beban pikiran saya baik sebelum mengambil keputusan atau sesudah keputusan saya buat.


  1. Pentingnya mempelajari topik modul ini bagi saya baik sebagai individu dan saya sebagai pemimpin


Sebagai individu, saya merasa sangat penting mempalajari Modul 3.1. ini dikarenakan dalam interaksi saya sebagai individu baik dengan rekan guru dan pegawai, atau sebagai guru dengan murid saya sering menghadapi dilema etika maupun bujukan moral. Dengan mempelajari modul ini akhirnya saya menjadi paham apa yang harus saya pikirkan dan lakukan secara sistematis sehingga saya harap keputusan yang saya ambil merupakan keputusan yang tepat, keputusan yang berpihak pada murid, berdasar pada nilai kebajikan, dan bertanggung jawab.


Adapun saya sebagai pemimpin, saya menganggap sangat amat penting mempelajari modul ini ketika posisi kita adalah pemimpin. Hal ini dikarenakan memang muara dari banyak permasalahan di sebuah institusi apapun, dalam hal ini adalah sekolah ada pada tangan pemimpin. Dengan mempelajari modul ini maka harapan saya dapat menjadi pemimpin yang adil, arif, serta bijaksana dalam membuat keputusan yang tepat. Hal ini sangat penting karena dengan keputusan yang tepat  maka ekosistem sekolah akan nyaman, aman, menyenangkan. Keputusan yang akan saya ambil tepat dan berdasar pada nilai-nilai kebajikan, berpihak pada murid, dan saya mampu meminimalisir dampak buruk dari keputusan saya dan mampu mempertanggungjawabkan secara penuh keputusan yang sudah saya ambil karena sudah melalui sembilan tahap pengambilan dan pengujian keputusan.



Penutup


Demikan tulisan dari saya terkait dengan Koneksi Antar Materi Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin. 


Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan saya, mohon bimbingan dan masukannya di kolom kometar. Terimakasih banyak.

Guru Bergerak, Indonesia Maju!!!

Comments

  1. Saya juga demikian, Bu. Pemahaman yang tak terduga pada modul ini adalah adanya uji legal, regulasi, intuisi, promosi, dan panutan. Ternyata melalui uji-uji tersebut sangat membantu kita untuk menentukan klasifikasi kasus dilema etika atau bujukan moral, sehingga menuntun kita lebih mudah mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  2. Benar sekali pak Tikno, kita mendapatkan banyak ilmu baru njih pak dalam modul ini. Alhamdulillah.

    ReplyDelete
  3. Terimakasih banyak untuk apresiasinya Bu Lia. Kita sama-sama belajar mengambil keputusan yang tepat sebagai pemimpin Bu Lia.

    ReplyDelete
  4. Sangat bagus sekali bu immah semoga apa yang bu immah tuliskan dapat membawa dampak positif bagi teman CGP dan dunia pendidikan, tetap semnagat menginspirasi demi kemajuan pendidikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, aamiin aamiin YRA. Terimakasih Bu Lilis, semoga kita semuanya mampu bergerak demi dunia pendidikan.

      Delete
  5. sangat jelas, sistematis. dari tulisan bu ima sangat menunjukkan kalo bu ima sangat paham akan materi yang sudah dipelajari. menginspirasi sekali bu ima.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Artikel Penerapan Budaya Positif di Kelas Biologi SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan